Analisis Studi Kelayakan Bisnis Pada PT. Pertamina (Persero)

 Analisis Perusahaan Pada PT. Pertamina (Persero)

Afifah Nurul Hidayah (235211020)

 

    Pertamina adalah perusahaan milik negara (BUMN) terbesar di Indonesia dalam hal pendapatan dan labanya. Perusahaan ini aktif di sektor hulu dan hilir industri minyak dan gas. Sektor hulu meliputi eksplorasi dan produksi minyak, gas dan energi panas bumi, sementara kegiatan hilir mencakup pengolahan, pemasaran, perdagangan dan pengiriman

1.      Aspek Hukum

a)      Legalitas Perusahaan

PT Pertamina (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbentuk Perseroan Terbatas. Sebagai entitas bisnis, Pertamina memiliki legalitas yang sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan Indonesia, termasuk akta pendirian perusahaan yang disahkan oleh notaris dan diumumkan dalam Berita Negara. Legalitas ini memastikan bahwa perusahaan diakui secara hukum dan dapat beroperasi dengan legitimasi penuh.

b)      Perizinan

Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi, Pertamina wajib memiliki berbagai izin usaha yang relevan, seperti Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Izin Usaha Industri (IUI), dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Kepemilikan izin-izin ini memastikan bahwa operasional perusahaan sesuai dengan standar dan regulasi yang berlaku.

c)      Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

Pertamina memiliki berbagai aset kekayaan intelektual, termasuk merek dagang, paten, dan hak cipta. Perlindungan HKI penting untuk menjaga inovasi dan identitas perusahaan. Pendaftaran merek dan paten dilakukan melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) untuk mencegah penggunaan tanpa izin oleh pihak lain

d)      Ketenagakerjaan

Pertamina mematuhi peraturan ketenagakerjaan Indonesia, termasuk Undang-Undang Ketenagakerjaan yang mengatur hak dan kewajiban pekerja serta pemberi kerja. Aspek ini mencakup kontrak kerja, upah minimum, jaminan sosial, dan kondisi kerja yang layak. Kepatuhan terhadap regulasi ini penting untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis dan produktif 

2.      Aspek Sosial Ekonomi

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor energi, Pertamina memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Perusahaan tidak hanya menyediakan energi bagi masyarakat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi pada pembangunan sosial melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR)

a)      Penciptaan Lapangan Kerja

·    Pertamina menjadi salah satu BUMN terbesar di Indonesia yang menyerap lebih dari 30.000 tenaga kerja langsung, serta menciptakan ribuan pekerjaan tidak langsung melalui sektor distribusi, logistik, pengeboran, hingga ritel (Pertashop & SPBU).

·   Program Pertamina Energi Negeri program ini melibatkan para pekerja Pertamina, yang dikenal sebagai Perwira dan Pertiwi, untuk berbagi ilmu dan pengalaman langsung kepada siswa-siswi sekolah dasar di berbagai wilayah.​

b)      Pemberdayaan Ekonomi Lokal (UMKM dan BUMDes)

·     Pertamina memiliki Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang mendukung pengembangan UMKM lokal melalui akses pemodalan dan pembinaan usaha

·     Pertamina mendukung BUMDes dan Petani Lokal dalam pengadaan bioenergy, seperti bahan baku bioavtur dari minyak sawit

c)      Tanggung Jawab Sosial dan LingkungN (TJSL/CSR)

·         Mendukung program Pertamina Sobat Bumi untuk mendukung energi bersih dan pelestarian lingkungan

·         Program CSR Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan Ekonomi masyarakat seperti Beasiswa Sobat Bumi, Pelatihan UMKM, Mobil Sehat dan Ambulan Siaga Pertamina

d)      Kontribusi terhadap Penerimaan Negara

·         Pertamina menyumbang triliunan rupiah setiap tahun dalam bentuk Dividen, Pajak, serta PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak)

·         Dana ini sangat penting untuk mendanai program membangunan sosial, kesehatan, pendidikan, dll.


3.      Aspek Lingkungan

    PT Pertamina (Persero) menunjukkan komitmen kuat terhadap keberlanjutan lingkungan melalui berbagai inisiatif dan kebijakan strategis. Beberapa aspek utama terkait upaya lingkungan yang dilakukan oleh Pertamina:

a)      Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK)

Pertamina berhasil mengurangi emisi GRK sebesar 6,38% pada tahun 2022 dibandingkan dengan basis tahun 2020. Perusahaan menargetkan pengurangan emisi hingga 30% pada tahun 2030 sebagai bagian dari upaya mencapai Net-Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.

b)      Pengelolaan ESG (Environment, Social, Government)

Pada tahun 2023, PERTAMINA telah menjalankan serangkaian program reduksi emisi dari aktivitas operasi dan berhasil mencatatkan reduksi emisi sebesar 1.135 juta ton CO2 e. Dengan pencapaian tersebut maka secara keseluruhan sejak 2010 sampai dengan akhir 2023, PERTAMINA telah berkontribusi mengurangi jejak karbon emisi sebesar 8,5 juta ton CO2 e dari baseline emisi tahun 2010. 

Penjualan produk biodiesel B35 telah berhasil menurunkan emisi sekitar 28 juta ton CO2 e per tahunnya. PERTAMINA juga melakukan pengembangan pengelolaan emisi gas metana (CH4 ) dan upaya dekarbonisasi yang telah dilakukan juga berkontribusi terhadap penurunan gas metana (CH4 ).

4.      Aspek Pasar

a)      Pangsa Pasar dan Posisi Kompetitif

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pertamina memegang peran dominan dalam industri energi Indonesia, khususnya di sektor minyak dan gas bumi. Perusahaan ini bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya energi nasional dan memiliki jaringan distribusi yang luas di seluruh Indonesia. Dominasi ini menempatkan Pertamina sebagai pemimpin pasar dalam industri energi domestik.

b)      Permintaan dan Penawaran Produk

Pertamina menyediakan berbagai produk energi, termasuk bahan bakar minyak (BBM), liquefied petroleum gas (LPG), dan produk petrokimia. Permintaan terhadap produk-produk ini dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi nasional, peningkatan jumlah kendaraan bermotor, dan kebutuhan industri. Pertamina terus berupaya memenuhi permintaan tersebut melalui peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi operasional.

c)      Strategi Pemasaran dan Distribusi

1)      Pengembangan Jaringan SPBU

Pertamina terus memperluas jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk memastikan ketersediaan produk di seluruh wilayah Indonesia.

2)      Digitalisasi Layanan

Penerapan teknologi digital dalam layanan, seperti aplikasi MyPertamina, untuk meningkatkan kenyamanan dan loyalitas pelanggan.

3)      Kemitraan Strategis

Kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan swasta dan pemerintah daerah, untuk memperluas distribusi dan aksesibilitas produk.

 

5.      Aspek Sumber Daya Manusia dan Manajemen

    Langkah yang dilakukan oleh pertamina dalam aspek SDM adalah dengan menyelenggarakan SDM di antaranya Agent of Change (AOC). Pertamina juga menerapkan kebijakan Respectful Workplace Policy dan Human Right Policy, termasuk mengadopsi Voluntary Principles on Security and Human Rights (VPSHR) untuk mendorong pemenuhan HAM melalui keberagaman dan inklusi, meningkatkan employee engagement rate, mengembangkan kompetensi dan mendukung penuh kesetaraan gender dengan memberi ruang dan potensi kepada pekerja perempuan yang saat ini jumlahnya di Grup PERTAMINA mencapai 19,4% dari total pekerja. 

    Pertamina juga mendukung pemberdayaan disabilitas untuk mendapatkan kesempatan bekerja di PERTAMINA, dan hingga akhir tahun 2023 tercatat ada 57 pegawai disabilitas, bertambah 22% dari tahun 2022 sebanyak 49 orang.

    Fokus lain dari Pertamina yaitu menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta keselamatan proses, baik bagi seluruh karyawan maupun masyarakat mengingat pada tahun 2023 ada beberapa insiden skala besar yang menuntut perbaikan. Insiden tersebut di antaranya, kebakaran Depo Plumpang di Koja, Jakarta Utara yang menyebabkan 38 warga meninggal dunia dan ribuan rumah warga terbakar. Selain itu juga terjadinya kebakaran di Kilang Dumai, Riau yang menyebabkan beberapa bangunan rumah warga mengalami kerusakan.

6.      Aspek Keuangan

a)      Kinerja Pendapatan

         ·         Pendapatan konsolidasi tahun 2023: Sekitar USD 75 miliar, meskipun                     terjadi penurunan dibandingkan 2022 (USD 94 miliar) akibat turunnya harga               minyak dunia.

         ·    Namun, kinerja operasional tetap stabil, didukung oleh diversifikasi usaha: hilir           migas, gas, petrokimia, panas bumi, dan energi baru terbarukan.

b)      Laba Bersih

·      Laba bersih 2023: Sekitar USD 4,5 miliar – tetap tinggi meskipun lebih rendah dari 2022 (USD 8 miliar), karena adanya koreksi harga minyak global.

·         Tetap menunjukkan profitabilitas yang kuat sebagai BUMN energi terbesar.

c)      Arus Kas dan Likuiditas

·      Arus kas dari aktivitas operasi tetap positif dan kuat, terutama dari sektor hilir (penjualan BBM dan LPG).

·   Rasio likuiditas terjaga, menunjukkan kemampuan membayar kewajiban jangka pendek dengan baik.

d)      Investasi dan Ekspansi

·         Pertamina mengalokasikan belanja modal (Capex) sebesar USD 5–6 miliar per tahun untuk: hilirisasi energi, transisi engeri (bioenergy, panas bumi, baterai EV), infrastruktur migas dan digitalisasi SPBU

·         Memberi sinyal kelayakan jangka panjang dan kesiapan menghadapi transisi enegeri global

e)      Dukungan Pemerintah

·         Pemerintah menjamin sebagian pembiayaan Proyek Strategis Nasional (PSN) Pertamina

·         Dapat subsidi dan penugasan khusus (BBM satu harga, subsidi LPG 3 kg, dll) yang dijamin APBN.

Pertamina layak secara finansial, dengan fondasi yang kuat, arus kas yang stabil, kemampuan investasi besar, serta dukungan pemerintah yang solid. Perusahaan ini juga berada di posisi strategis untuk mendukung transisi energi nasional dan ekspansi bisnis jangka panjang.

7.      Aspek Teknologi

a)      Pengembangan Teknologi Panas Bumi

Pertamina, melalui anak perusahaannya PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), fokus pada peningkatan kapasitas terpasang dan inovasi berkelanjutan dalam pengelolaan energi panas bumi. Langkah ini mendukung ketahanan energi nasional dan sejalan dengan visi perusahaan menjadi World Class Geothermal Energy Enterprise.

b)      Implementasi Teknologi CCUS

Pertamina telah mengimplementasikan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) dengan melakukan injeksi perdana CO₂ di Lapangan Sukowati. Inisiatif ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam memenuhi kebutuhan energi nasional sekaligus mendukung program dekarbonisasi untuk mencapai target Net Zero Emission 2060.

c)      Refinery Monitoring Excellence (REMOTE)

Digitalisasi ini berperan monitoring Kilang secara online, mulai dari monitoring minyak mentah, produksi, hingga lifting produk, termasuk status kapal yang digunakan.

d)      Digital Fleet Monitoring

Digitalisasi ini mampu berperan fleet monitoring (truk dan kapal) secara aktual dengan kondisi real-time, termasuk melacak posisi menggunakan GPS dan Internet of Things (IoT).

e)      My Pertamina

Aplikasi digital ini merupakan super Apps (one stop solution), untuk Client Engagement dalam pembelian dan promosi produk.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Perusahaan pada PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (Cimory)

ANALISIS PT. GARENA INDONESIA